Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

UJIAN-NYA

Listrik padam. Tepat di saat Hanun sedang menyelesaikan beberapa soal yang akan diberikan kepada siswa-siswi tercinta di ujian kenaikan kelas dua minggu lagi. Di hari-hari sebelumnya, Hanun telah menyelesaikan 33 soal pilihan berganda dari 40 soal. Dan kini, 33 soal itu hilang, lenyap, bagai ditelan bumi. Berlebihan sih, hanya ditelan si alat canggih berbahasa dunia ini. Penyebabnya adalah listrik yang padam secara tiba-tiba dan Hanun tidak menggunakan batrai pada alat canggih itu. Biasanya alat canggih ini secara otomatis menyimpan dokumen apapun, tetapi tidak untuk malam ini. Dokumen tidak dapat dibuka. Diutak-atik. Tetap lenyap. Hilang. Tidak ditemukan.

Hanun termangu. Terpaku. Terdiam sejenak. Hanun berusaha mendengarkan bisikan kata hatinya. Sisi yang satunya, hatinya berang. Hanun ingin mengamuk. Hanun uring-uringan karena soal ini harus dikumpulkan dalam hitungan 1x24 jam. Sementara ia tidak memiliki banyak waktu. Belum lagi mendengar tangisan si cantik, Annisa. Annisa adalah buah cinta pertama Hanun bersama Mas Alif. Annisa berusia 18 bulan. Masih dini baginya kehilangan perhatian bunda yang acapkali tercurah kepada tugas-tugas sekolah. Apalagi Mas Alif sudah dua minggu ini keluar kota karena tugas kantor. Hanun tidak tega mendengar tangisan Annisa. Annisa pasti terbangun. Mungkin ngompol atau BAB atau kehausan. Hatinya kembali terusik, ia seorang ibu yang terlalu sering mengabaikan anaknya. Hatinya yang berang tadi dirasuki oleh setan. Hanun mengehela napas berat. Malas dan akhirnya ia beranjak ke kamar menemui Annisa. Basah ternyata dia ngompol. Mengganti dan meniduri Annisa. Beberapa saat berlalu, Annisa terlelap. Sisi hatinya masih saja bengkak. Merah. Emosi masih saja merajainya. Hanun berusaha mengutak-atik kembali. Namun nihil. Tidak bisa dibuka, begitu keterangan dari si alat canggih itu.