Hanun termangu. Terpaku. Terdiam sejenak. Hanun
berusaha mendengarkan bisikan kata hatinya. Sisi yang satunya, hatinya berang.
Hanun ingin mengamuk. Hanun uring-uringan karena soal ini harus dikumpulkan
dalam hitungan 1x24 jam. Sementara ia tidak memiliki banyak waktu. Belum lagi
mendengar tangisan si cantik, Annisa. Annisa adalah buah cinta pertama Hanun
bersama Mas Alif. Annisa berusia 18 bulan. Masih dini baginya kehilangan
perhatian bunda yang acapkali tercurah kepada tugas-tugas sekolah. Apalagi Mas
Alif sudah dua minggu ini keluar kota karena tugas kantor. Hanun tidak tega
mendengar tangisan Annisa. Annisa pasti terbangun. Mungkin ngompol atau BAB atau kehausan. Hatinya kembali terusik, ia seorang
ibu yang terlalu sering mengabaikan anaknya. Hatinya yang berang tadi dirasuki
oleh setan. Hanun mengehela napas berat. Malas dan akhirnya ia beranjak ke
kamar menemui Annisa. Basah ternyata dia ngompol.
Mengganti dan meniduri Annisa. Beberapa saat berlalu, Annisa terlelap. Sisi
hatinya masih saja bengkak. Merah. Emosi masih saja merajainya. Hanun berusaha
mengutak-atik kembali. Namun nihil. Tidak bisa dibuka, begitu keterangan dari
si alat canggih itu.
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
UJIAN-NYA
Listrik padam. Tepat di saat Hanun sedang
menyelesaikan beberapa soal yang akan diberikan kepada siswa-siswi tercinta di
ujian kenaikan kelas dua minggu lagi. Di hari-hari sebelumnya, Hanun telah
menyelesaikan 33 soal pilihan berganda dari 40 soal. Dan kini, 33 soal itu
hilang, lenyap, bagai ditelan bumi. Berlebihan sih, hanya ditelan si alat
canggih berbahasa dunia ini. Penyebabnya adalah listrik yang padam secara
tiba-tiba dan Hanun tidak menggunakan batrai pada alat canggih itu. Biasanya
alat canggih ini secara otomatis menyimpan dokumen apapun, tetapi tidak untuk
malam ini. Dokumen tidak dapat dibuka. Diutak-atik. Tetap lenyap. Hilang. Tidak
ditemukan.
Langganan:
Postingan (Atom)